Wol, Sutera, Kalogen, dan Protein Regenerasi
Sejarah wol dan sutera untuk
dipakai sebagai bahan pakaian sudah ada sejak sekitar 5.000 tahun lalu. Wol diperoleh terutama dari domba dengan
menggosok rambut domba dengan larutan sabun alkali untuk menghilangkan lemak (fat) dan gemuk (grease). Domba yang berbeda memproduksi wol dengan sifat-sifat
seperti elastisitas, kekuatan, warna, dan pengkerutan yang sangat bervariasi.
Wol biasanya dikelompokkan berdasarkan sumbernya, yaitu lunak, medium, panjang,
crossbred, dan karpet. Hewan-hewan
lainnya, termasuk kambing (wol-wol mohair
dan cashmere) dan unta-unta atau
anggota dari keluarga unta (Ilama,
alpaca, vicuna), juga merupakan sumber wol. Sutera dihasilkan oleh
ulat-ulat sutera berupa dua filamen yang dikandung dalam suatu karet yang kaya
protein. Spesies lainnya, seperti ulat dan laba-laba ngengat gipsi, juga
mengeluarkan sutera, tetapi jenis ulat sutera yang secara komersial digunakan.
Terdapat banyak variasi dalam
komposisi asam amino wol dan sutera. Misalnya, sutera terutama terdiri atas
empat asam amino, amino-glisin, alanin, serin, dan tirosin-tiga asam amino yang
pertama memilki gugus R kecil (berturut-turut –H, -CH3, dan –CH2OH),
sedangkan wol memiliki distribusi yang lebih merata. Selain itu, wol mengandung
proporsi sistein yang jauh lebih tinggi, yang merukpakan petunjuk lebih
banyaknya penggulungan rantai melalui gugus-gugus disulfida. Sutera relatif
tidak mengandung gugus –R yang sangat meruah sehingga ia mengambil konfigurasi
bera dengan rantain yang terulur, sedangkan wol (keratin) memperlihatkan
struktur sekunder alfa heliks, tetapi wol yang tegerang memilki susunan beta
dengan rantai terulur.
Modifikasi kimia terhadap sutera
dan wol telah banyak dilakukan. Wol dengan kurang dari 1% nilon 610 yang tercangkok,
memiliki ketahanan susut yang baik. Pencangkokan tersebut secara komersial
diselesaikan melalui polimerisasi antar permukaan (interfarcial polymerization). Wol pertama-tama direaksikan dengan
larutan 1% heksametilenadiamin ditambah basa anorganik, kemudian dengan larutan
hidrokarbon 2-3% sebakoil klorida. Polimer cangkok dianggap terbentuk melalui
reaksi antara gugus-gugus ujung asam klorida dan gugus-gugus amino protein
bebas. Pencangkokan wol juga dilakukan dengan dengan poliuretan, poliurea, dan epoksida.
Polimer-polimer vinil juga telah dicangkokkan ke wol dan sutera, misalnya
melalui pencangkokan radiasi.
Sejumlah reaksi juga telah dipakai
untuk mengikat-silangkan serat-serat protein. Jika produk ikat silang sistein
disulfida dari wol direduksi ke tiol, kemudian diikat silang kembali dengan
dihalida, maka wol yang telah dimodifikasi tersebut memperlihatkan ketahanan
yang mengikat terhadap asam, basa, oksidator, serta serangga permadani.
Pereaksi lain yang dipakai untuk mengikat-silangkan wol dan sutera mencakup
formaldehida, diepoksida, dan epiklorohidrin. Kain-kain wol juga telah dibuat
tahan api dengan resin melamin-formaldehida yang dimodifikasi fosfor.
Kolagen, konstituen utama dari
kulit dipakai sebagai sumber gelatin dan perekat (melalui perlakuan dengan air
mendidih) dan kulit (melalui perlakuan dengan asam tannat atau garam-garam
logam berat). Sesungguhnya gelatin merupakan bentuk yang terdegradasi secara
parsial dari kalogen dengan berat molekul sekiktar 54.000. Kolagen terkomposisi
terutama dari glisin, prolin, dan hidroksipolin, dengan sejumlah kecil
asam-asam amino lainnya. Perlakuan kimiawi kulit dengan diepoksida mengurangi
kecenderungannya untuk susut menjadi rapuh oleh pemansan.
Plastik dan serat telah diproduksi
dari protein yang diperoleh dari sejumlah sumber termasuk susu (kasein), tepung
jagung (zein), kacang tanah (arakin), dan kacang kedele (glisinin). Asam amino
utama dari protein-protein ini adalah asam glutamat (terutama dalam zein).
Arginin juga terdapat dalam jumlah yang signifikan dalam arakin, dan isoleusin
dalam ketiga protein lainnya.
Proses pembaharuan (regenerasi)
tersebut melibatkan dispersi protein dalam larutan encer natrium
hidroksida, yang dilanjutkan dengan
proses ekstrusi melewati pemintal ke dalam satu bak asam untuk membentuk
serat-serat. Protein tersebut juga diikat silang dengan formaldehida untuk
memperkeras dan mengurangi kelarutannya. Sebagai suatu plastik, protein
terbaharui biasanya dipakai untuk aplikasi dekoratif dalam ruangan (tombol,
knop, gagang pintu, dan lain-lain) karena daya tahan cuacanya yang buruk.
Kasein tak terikat silang juga dipakai untuk memperbaiki kerekatan tali ban
rayon liat ke karet. Serat-serat protein terbaharui biasanya dipakai dalam
kombinasi dengan wol, kapas atau serat-serat sintesis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar