Atom terdiri atas inti dan
elektron-elektron yang beredar mengitarinya. Lintasan electron mengitari inti
aton disebut “kulit atom”. Reaksi
kimia biasa, misalnya pembentukan ikatan kimia, hanya melibatkan electron pada
kulit atom sedangkan inti tidak mengalami perubahan. Reaksi yang menyangkut
perubahan susunan init atom disebut reaksi
inti atau reaksi nuklir (nucleus = inti).
Reaksi inti ada yang terjadi secara
spontan, ada juga yang terjadi karena buatan. Reaksi inti spontan terjadi pada
inti yang tidak stabil. Zat yang mengandung inti tidak stabil ini disebut zat radioaktif.
Reaksi inti berlangsung dengan
disertai pembebasan energi berupa radiasi dan kalor. Energi yang menyertai reaksi
inti jauh lebih besar daripada energi reaksi kimia biasa. Namun sayang, energi
yang dihasilkan reaksi inti (energy nuklir) tersebut pertama kali diperkenalkan
kepada penduduk bumi berupa bom atom, yang menghancurkan HIrosima dan Nagasaki,
Jepang. Dewasa ini zat radioaktif telah banyak digunakan untuk maksud damai
(bukan tujuan militer), baik sebagai sumber radiasi maupun sebagai sumber
tenaga.
1. Penemuan Keradioaktifan
Pada tahun
1985, Roentgen menemukan sinar
X, suatu radiasi electromagnet berenergi tinggi yang dapat menghitamkan
pelat potret meski masih terbungkus kertas hitam. Seperti Anda ketahui, sina X
kini digunakan untuk roentgen. Tertarik akan penemuan sinar X, Henry
Becquerel meneliti radiasi yang dipancarkan oleh bantuan yang dapat
berpendar. Secara kebetulan Becquerel meneliti batuan uranium sehingga
menghantarkannya pada penemuan keradioaktifan, yaitu pada tahun 1896. Becquerel
menemukan bahwa uranium senantiasa memancarkan radiasi secara spontan. Fenomena
ini disebut radioaktivitas. Pada
tahun 1898, pasangan suami istri Pierre dan Marie Curie menemukan dua
unsur radioaktif lainnya, yaitu radium and polonium.
Ternyata,
banyak unsur yang secara alami bersifat radioaktif. Semua isotop yang bernomor
atom di atas 83 bersifat radioaktif. Unsur yang bernomor ato 83 atau kurang
mempunyai isotop stabil, kecuali teknesium dan promesium. Isotop yang bersifat
radioaktif disebut isotop radioaktif atau
radioisotop, sedangkan isotop yang
tidak radioaktif disebut isotop stabil.
Dewasa ini radioisotop dapat juga dibuat dari isotop stabil. Jadi, selain radioisotop
alami, juga ada radioisotop buatan.
2. Sinar-Sinar Radioaktif
Pada tahun
1903, Ernest Rutherford menemukan bahwa radiasi yang dipancarkan zat
radioaktif dapat dibedakan menjadi 2 jenis berdasarkan muatannya. Radiasi yang
bermuatan positif dinamai sinar alfa,
dan yang bermuatan negatif diberi nama sinar
beta. Selanjutnya, Paul U. Vilard menemukan jenis sinar
ketiga yang tidak bermuatan dan diberi nama sinar gamma.
a.
Sinar Alfa (α) “gambar”
Sinar alfa
merupakan radiasi partikel bermuatan positif. Partikel sinar alfa sama dengan
inti helium -4(42He), bermuatan +2ḗ dan bermasa 4 sma. Partikel sinar alfa itu merupakan
gabungan dari 2 proton dan 2 neutron. Sinar alfa dipancarkan oleh inti dengan
kecepatan sekitar
kecepatan cahaya. Oleh karena memiliki massa
yang besar, daya tembus sinar alfa paling lemah di antara sinar radioaktif. Di
udara hanya dapat menembus beberapa cm saja dan tidak dapat menembus kulit.
Sinar alfa dapat dihentikan oleh selembar kertas biasa. Sianr alfa segera
kehilangan energinya ketika bertabrakan dengan molekul media yang dilaluinya.
Tabrakan itu mengakibatkan media yang dilaluimengalami ionisasi. Akhirnya,
partikel alfa akan menangkap 2 elektron dan berubah menjadi atom helium -4 (42He).
b.
Sinar Beta (β)
Sinar beta
adalah berkas elektron yang berasal dari inti atom. Partikel beta bermuatan -1ḗ dan bermassa
sma. Oleh karena sangat kecil,
partikel beta dianggap tidak bermassa sehingga dinyatakan dengan notasi
.
Energi sinar beta sangat bervariasi, mempunyai daya tembus
lebih besar daripada sinar alfa, tetapi daya pengionnya lebih lemah. Sinar beta
paling energetik dapat menempuh sampai 300 cm dalam udara kering dan dapat
menembus kulit.
c.
Sinar Gamma
(γ)
Sinar Gamma adalah radiasi elektromagnetik berenergi tinggi,
tidak bermuatan, dan tidak bermassa. Sinar gamma dinyatakan dengan notasi
.
Sinar gamma mempunyai daya tembus yang sangat besar, paling
besar diantara sinar radioaktif, tetapi daya pengionnya paling lemah. Sinar
gamma dapat menembus beberapa cm logam timbel (logam yang memiliki daya serap
radiasi yang paling kuat).
“gambar”
Berbagai Jenis Partikel dan Radiasi yang Menyertai Peluruhan
Radioaktif
|
Jenis Parrtikel
|
Notasi
|
Muatan
(e)
|
Massa
(sma)
|
|
Proton
|
|
+1
|
1
|
|
Neutron
|
|
0
|
1
|
|
Elektron
|
|
-1
|
0
|
|
Positron
|
|
+1
|
0
|
|
Foton Sinar Gamma
|
|
0
|
0
|
|
Foton Sinar X
|
|
0
|
0
|
|
Partikel
Sinar Alfa (α)
|
|
2
|
4
|
Selain sinar alfa, beta, dan gamma, zat radioaktif buatan juga ada yang memancarkan sinar X dan sinar positron. Sinar X adalah radiasi electromagnet menyerupai sinar gamma, tetapi energy sinar X lebih lemah. Sinar positron menyerupai sinar beta kecuali muatannya berbeda. Sinar positron terdiri atas electron bermuatan positif sehingga dinyatakan dengan notasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar